Sabtu, 04 April 2015

Filsafat "Mimpi"

Aku dilahirkan kembali dalam bayangan senja disebuah dunia yang berperang dengan dirinya sendiri: aku yang berjalan dengan angkuhnya memandang sebelah mata orang-orang yang berada didepanku, seolah tak akan ada malam kelam dalam drama kehidupanku. Banyak yang mencintaiku, berbicara tentang berlian-berlian indah yang menghiasi tubuhku. Orang tuaku dengan cinta mengatakan, walaupun aku lahir dari kehidupan yang cukup, jiwaku harus kupaksa untuk merendah.
          Aku masih tidak mengerti mengapa orang tuaku mengatakan itu padaku, bukankah seharusnya orang tuaku bangga bila melihatku terlihat bercahaya dimata manusia lain?, pertanyaanku terhenti sampai disini. Tidak peduli seberapa keras aku menjelaskan pada orang tuaku, mereka akan terus mengulang-ulang kalimat itu. Aku selalu menganggap diriku adalah manusia hebat yang menjelma menjadi mahasiswa. Semua mahasiswa memandangku dengan tatapan kagum,  terkadang sinis entah karena mereka merasa iri atau mungkin karena mereka merasa jijik dengan aku yang selalu berdiri dengan kesombongan yang kupunya.
          Inilah aku yang dilahirkan dari setetes air mani dan berevolusi menjadi sesosok binatang yang berakal dan berhati. Aku bagaikan hidup dalam surga yang menjanjikan segala nikmat yang amat menggiurkan bahkan bunga-bunga keagungan seakan menjanjikan aroma penhormatan kepadaku. Satu persatu merundukkan tangkai pengabdian kepadaku.
          Sang malam mulai merajai tubuhku dalam ketidakberdayaan. Mataku perlahan mulai terpejam dan aku mulai berlari-lari menuju alam mimpi. Saat itulah kudapati perjumpaan yang tak selamanya membawa arti, karena makna yang kuimpikan hanyalah setitik keindahan yang menyemburkan lebih dari seratus duka. Aku gelisah. Saat itu kulihat dunia ini hancur dan gunung-gunung meletus. Sedang aku masih mengkhawatirkan diriku dan menunggu orang-orang melihatku. Padahal mereka berlalu lalang menyelamatkan anak istrinya. Hingga akhirnya kudapati aku terbaring lemah tanpa apa-apa diantara ribuan kaki yang berlalu lalang.
          Aku telah bermimpi dan tak kusangka air mataku pun meleleh  serta hatiku bergejolak. Tidakkah hidup ini lebih indah dari sebuah mimpi ? ketakutan menghantuiku hingga menumbuhkan harapanku bahwa kenyataan akan datang mematahkan argumentasi mimpi. Aku terus bertanya tentang mimpiku pada jiwaku, pada angin spoi-spoi, dan pada lautan yang membentang luas . Mereka satupun tak ada yang mampu memberikan jawaban. Hingga kudapati seorang sahabatmengahmpiriku dan  memberikan sebuah jawaban :
          Hidup kita seperti sebuah kedipan cahaya keabadian, senoda debu terbumbung sebentar oleh angin yang mengarungi semesta hampa tak terbatas. Kemudian sahabat itu meletakkan buku dipangkuanku, dan beranjak membalikkan badannya. Aku semakin bergelut dengan jiwaku, seperti meraba-raba dalam kegelapan yang bersikeras untuk memahami jawaban itu. Aku benar-benar terperangkap dalam mimpi. Mimpi yang tidak bisa ku ingkari untuk terus kupikirkan. Betapa aku terlihat seorang diri dan tidak ada satu jiwapun yang mengenaliku dalam mimpi, menjadi ketakutan tersendiri ketika aku menjelma menjadi manusia yang tidak memiliki apa-apa. Tidak ! mimpi bukan solusi atas hidupku. Kenyataan ini lebih nyaman dan damai untuk kurenungkan. Begitu kiranya aku mencoba menenangkan jiwaku. “Dunia Shopi” Aku mulai membalik halaman buku sambil membaca dari alinea ke alinea dengan teratur hingga hari menjadi gelap. Lalu kudapati bibirku menarikan suara dengan pelan ketika menemukan kalimat dilangit luas dan menakjubkan ini, siapakah aku ? darimana asalku dan bagaimana caranya sampai aku bisa berada disini ? adakah tujuan lain yang lebih luhur selain merasa takjub pada posisiku yang gamang ini pada ketidakjelasan waktu ?
Laksana tembang-tembang lama yang sudah jauh terlupakan. Sisa-sisa senyuman yang masih mengembang dibibirku pudar seketika. Aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan misterius ini. pertanyaan-pertanyaan ini semakin menambah kegelisahan mimpi-mimpiku semalam.
          Suatu pagi saat tersentuh hangat mentari, aku melintasi pergumulan mahasiswa yang sedang bercanda didepan kelas. Saat itu pula aku melihat sahabatku termenung di sebelahnya. Wanita yang saat ini mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan umat didalam sebuah Ormas Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu sahabatku. Aku segera menghampirinya dan bertanya, “mengapa kau memberiku sebuah buku yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru untukku wahai sahabatku ? tidakkah kau mengerti aku sedang dihantui mimpi-mimpi buruk tentang kedamaian hidupku.
Sahabatku menjawab, “ada isyarat, ada pertanda bahwa kau harus mengakhiri kedamaian hidupmu yang selalu berada dalam kenyamanan wahai sahabatku. Aku akan mengenalkanmu tentang kehidupan dimana orang-orang melarat diperlakukan secara tidak adil, ditindas dalam pijakan orang-orang berhati batu, bagaimana anak-anak diluar terlantar sesat dan terlupakan dijalan-jalan padat kendaraan, tetapi sebelum itu aku telah memberikanmu satu buku untuk kau baca, itu karena kau harus mengerti dulu siapa dirimu maka kamu akan mengerti dunia yang kau tempati dan orang-orang yang berada disekililingmu.
          “Ah, apa yang sedang engkau bicarakan sahabatku ? hentikanlah prasangka rabunmu itu. aku sedang tidak ingin bercanda pagi ini.
“Hidup tidak selalu tentang apa  yang engkau miliki dan tentang bagaimana engkau selalu memperhatikan penampilanmu  tetapi engkau perlu mengenali siapa dirimu dan untuk apa sebenarnya engkau berada disini ? tidakkah selama ini engkau masih dibutakan kenyamanan-kenyamanan dari harta yang engkau miliki sahabatku, hingga engkau begitu terkejut mendapati mimpi semacam itu. Malam itu engkau telah mendapat wahyu maka kau harus melanjutkan apa yang sedang engkau baca dan temukan jawaban-jawaban atas masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang engkau dapati dalam mimpimu.
Aku menghela nafas. Dari sekian banyak orang disekeliling yang kuanggap keluarga, satu jiwa yang sampai sejauh ini aku tidak bisa memahami karakternya. Aku telah percaya pada kebaikannya, budi pekertinya, kecerdasanya dan kerendahan hatinya yang selalu memintaku untuk melihat wajahku sendiri dalam cermin. Kerapkali kita duduk disatu meja menyantap makanan bersama dibumbui cerita dan lelucon serta tidak jarang pula aku didudukkan pada lingkaran mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiskusi.     
Aku terdiam, berawal dari mimpi itu hatiku bergejolak dan rasa keingintahuan terhadap pertanyaan-pertanyaan misterius ini semakin menggebu. Kemudian ia mengajakku  bertemu dengan manusia-manusia luar biasa yang keyakinannya bersinar terang dan mantap seperti bintang di konstelasi. Mereka tidak hanya sekedar membicarakan ideologi tetapi lebih tepatnya menuntunku kedalam cagar alam diriku untuk meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang membuatku terus merasa angkuh. Dengan cara ini, hidup mengajariku. Aku belajar keyakinan dari yang meragukan dan berterikasih kepada semua.  Aku mulai meninggalkan gaya hidupku dan terbiasa berkumpul dalam lingkaran mahasiswa-mahasiswa luar biasa. Sejak itulah aku mulai mencari tau siapa diriku ? untuk apa aku berada disini ? dan pertanyaan-pertanyaan baru yang selalu muncul dalam kehidupanku. Begitu drama ini mengantarkan dan mengenalkanku kedalam sebuah ikatan merah dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, melihat orang-orang disekitarku dan memahami bagaimana hidup mengajariku bersyukur terhadap sang pencipta.
Terimakasih Sahabatku. Terimakasih mahasiswa-mahasiswa merah luar biasa !


Kamis, 27 November 2014

Cerita Malam



Malam ini terasa dingin, tak seperti malam-malam yang lalu. Sepi, tapi menentramkan, membuat suasana hatiku ikut terbawa keadaan. Aku berharap ada banyak bintang dilangit, yang biasa terlihat terang dari teras lantai dua kamarku. Amat jelas, tapi malam ini aku hanya melihat dua bintang yang seolah mengintaiku. Ah... mungkin bintang yang lain sedang pergi ke pesta dansa malam ini, batinku menenangkan.
Tlilit. .tlililit..tlililit, tiba-tiba tanganku digetarkan dering sms, satu pesan diterima. Aku segera membukannya “apa kabar nak ? kapan kamu pulang Isna ? ibumu sangat merinduimu dirumah. Aku langsung beranjak dari suasana nyaman, seperti kaset yang kemudian memutar ulang keadaan, ingat Abi, ingat Umi dirumah. Umi pasti sangat kangen padaku, yang biasa mengelus-elus rambutku diruang keluarga, menyanjungku didepan Abi, “Lihat bi, anak kita sudah besar ya ? cantik pula”. Kemudian Abi tersenyum ringan, banyak belajar Isna, biar jadi anak pintar, tidak hanya cantik saja. Gumam Abi yang sampai sekarang menjadi motivasi nilai bercahayaku disini.
Aku baru mengerti betapa susahnya hidup dalam perantauan, jauh dari Umi dan Abi, jauh dari kisah manja orang tua. Sempurna, malam ini puisi ingatanku benar-benar membuat air mataku mengalir begitu deras. Aku gemetar membalas pesan Abi, tapi aku tidak ingin mmbuat Abi dan Umi khawatir, perlahan aku menuliskannya. 
“Isna baik-baik saja Abi, Umi. 
Isna juga sangat rindu pada Abi dan Umi, tapi Isna minta maaf, Isna belum bisa pulang bulan ini. Kegiatan kini membuat rindu itu tersimpan rapat-rapat diruang tersendiri. Abi, Umi, baik-baik saja bukan dirumah ? salam rindu dari anakmu.Isna” . Aku tahu betul, bagaimana wajah kehawatiran Abi dan Umi. Bahkan tau pasti mereka sangat menunggu kehadirannku, biasanya Abi tidak sesering ini mengirim pesan padaku,tapi bulan ini lain, dalam waktu dua minggu Abi sudah tiga kali menanyakan kepulanganku.
Semakin hari jadwalku semakin padat, terlalu sibuk mengurusi kegiatan, hingga aku lupa dengan segalanya. Lupa dengan teman-teman SMA, bukan lupa lebih tepatnya tapi terlalu menyibukkan diri.
Pagi tadi Lia teman SMA ku menelponku,
Isna sekarang sudah jadi orang sibuk ya ?”sampai tak pernah meghubungi sahabatnya.
Aku tertawa ringan, menjawabnya.
“ada sedikit kegiatan Lia,” begitu jawabku lembut. Aku tidak ingin mengecewakan sahabat baikku di SMA, ya! Walaupun dulu Lia ini anak super bawel dikelas, kalau sudah ngomong, susah banget berhentinnya.sampai-sampai aku sering meninggakannya pergi mengoceh sendirian. Hm.. yakin, mudah sekali mengingat kenangan-kenangan itu. Aku seperti terbawa masa lalu.
             Ah... sayangnya aku harus segera menghentikan telponku pagi itu, aku serasa sudah menjadi presiden, yang padat jadwal terbang. Aku juga jarang menghubungi Umi, kalau tidak Umi yang mengirim pesan terlebih dahulu padaku.
            Siang ini terik matahari begitu menyengat, pelajaran yang baru saja ku ikuti juga sangat membosankan, bayangkan saja.. aku disuruh duduk, dan dosen mulai mendongeng seenaknya. Seperti kembali pada masa di Sekolah Dasar saja, tapi lumayan separoh SKSnya bisa kubuat untuk melepas lelah dengan sejenak memejamkan mata. Aku tidak peduli apa dosen tersebut akan melihatku atau tidak. Apa peduli dosen seperti ini ?, ia hanya duduk, kemudian mendongeng, lalu keluar kembali. Hebat, uang bisa mengalir terus menerus. Aku seperti dininabobokkan dikelas.

Aku berteduh dibawah pohon ringin yang kira-kira cukup untuk ditempati 4-5 orang, kuambil sapu tangan hijau dari tas kecilku, kenang-kenangan dari Umi dulu. Tiba-tiba bapak Mudji dari kejauhan terlihat melambaikan tangan kemudian mendekatiku. “Ada apa ini?, kupikir nilai ku cukup baik pada mata kuliahnya minggu lalu”. Ah...  pikiran negatifku berkeliaran , semakin terlihat jelas senyum lebar Pak Mudji, “Isna, bapak sudah membaca cerpen-cerpenmu, kau terlihat menjiwai sekali dalam kepenulisan. Begini, rencana bapak mau meminta Isna untuk bersedia mengikuti lomba karya tulis di Bogor, tapi sebelum itu, Isna harus mengikuti pelatihan dulu selama 1 bulan di Bogor, untuk biaya sudah bapak tanggung semuanya, nanti biar bapak meminta keponakan bapak agar menemanimu supaya tidak kesepian. Bagaimana Isna? Bukankah lumayan, lagian sebentar lagi sudah libur semeter, ya sedikit-sedikit bisa mengisi waktu senggangmu.
Aku mengangguk, menghela nafas panjang. Bukankah hari libur itu akan kugunakan untuk menyapa Umi dan Abi dirumah. Tapi bagaimana dengan tawaran ini ? aku tidak cukup tega menolak permintaan Pak Mudji.
Aku menunduk...
Kemudian Pak Mudji mulai berbicara lagi, “bagaimana Isna? Bisakah kau meluangkan liburanmu kali ini ?”
“Bapak yakin kau anak yang akan sukses Isna”, Aku bergetar mengangguk. Mencoba memainkan logika bahwa aku telah memenangkan lomba karya tulis itu, betapa tidak sedikit hadiah yang akan ku terima. Kemudian Umi menjadi orang pertama yang akan kutunjuki piala tinggi itu...
Oh, sungguh itu benar-benar menakjubkan Isna.
“Baguslah nak”, suara bangga Pak Mudji benar-benar menyentak lamunanku...
Kemudian, Pak Mudji berlalu begitu saja,.
Mataku mulai berkaca-kaca, lima bulan ini aku belum pulang menyapa Umi dan Abi sama sekali, alasan apalagi yang akan aku katakan pada mereka, aku menyeka air mataku.
Tiba-tiba Abi menelponku, suaraku masih serak menjawab telpon Abi,
“Kau baik-baik saja Nak?, kenapa kau menangis Isna?, apa kau sedang sakit?”
“Tidak Abi, Isna baik-baik saja disini”, aku menjawab lirih
“apa Abi perlu memesankan travel untukmu pulang minggu depan Nak?, Abi sudah tidak sabar ingin bertemu Isna, Umi juga sangat rindu sekali pada Isna”, Aku ,menghela nafas panjang... “Isna ingin berbicara pada Umi bisa, Abi?”
Umi sedang sibuk didapur Nak”, kamu segera pulang saja, nanti langsung bisa memeluk Umimu”.
“Aku menyeringai datar... Heran”,
Umi tak pernah ada waktu untuk sekedar ngobrol sama aku, Abi selalu bilang Umi selalu sibuk didapur dan dapur, batinku bertanya-tanya...
“Abi, Isna mau bicara jujur pada Abi, Isna diminta untuk mengikuti pelatihan menulis untuk dikirim lomba mewakili universitas selama satu bulan, dan hadiahnya lumayan Abi, Isna berharap Abi mengizinkan Isna untuk satu bulan kemudian pulang kerumah”, “aku merayu kalem”.
Aku tahu Abi pasti kecewa padaku. Sunyi. Tak ada kata-kata, beberapa menit kemudian Abi memulai berbicara, “Yasudah Isna, berangkatlah!, Abi dan Umi mendo’akanmu dari rumah”, “Suara Abi lirih...”
Menyeringai tersenyum, tapi sedikit berat hati. Ah... betapa aku benar-benar rindu pada Abi dan Umi. Ingin sekali memeluk mereka begitu eratnya kemudian melepaskan lelah ini.
Aku berangkat pagi-pagi benar hari ini, takut Pak Mudji sudah menunggu lama disekolah, aku sebenarnya mengerti, Pak Mudji tidak akan marah padaku, sifat lembutnya yang membuatku memberikan penilaian beda dari dosen-dosen yang lain. Satu jam kemudian aku telah sampai di Bogor.
“Ternyata suasana disini tidak jauh beda dengan di Solo, Huh... padat kendaraaan”.
Aku menikmati keadaaanku disini, tapi bayang-bayang Abi dan Umi tidak bisa lepas dari fikiranku, tadi malam Abi mengirim sms padaku, aku dimintanya pulang tanpa memberi alasan yang jelas. “teleponku bergetar lagi”, “Isna, anakku sayang, Abi mohon pulanglah nak, ada sesuatu yang tidak bisa Abi jelaskan melalui ponsel”.
Tiba-tiba hatiku trenyuh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan Abi padaku, “Tapi apa? Bukankah Abi tahu ini masih setengah bulan Isna di Bogor dan perlombaanpun masih lama, bagaimana dengan harapanku membawa piala itu untuk Umi, Huh...Abi ada-ada saja”. Aku mendengus.
Malam ini aku seperti dibolak-balikkan oleh keadaan, pesan yang disampaikan Abi benar-benar seraa membayangi pikiranku.seperti memintaku hadir pada suasana senyap dirumah. “aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan”. Mataku telah berair. Entah, apa yang membuat hatiku seperti menyayat beban. Benar! Ada sesuatu yang Abi sembunyikan dariku, “Tapi apa?”, aku sengaja tak membalas sms Abi tadi siang, sampai larut malam ini Abi juga tak kunjung mengirim pesan lagi padaku.”Oh... entahlah, bila memang penting harusnya Abi menelponku”.
Hari ini tepat dihari perlombaan cerpen, aku tak sabar rasanya ingin mendengar pengumuman perlombaan, “Harus bisa, aku yakin bisa mengembalikan senyum Umi dengan piala yang akan kubawa”. Oh... Rindu sekali pada Umi...
Tiga hari kemudian, aku telah berada dikursi paling depan menunggu pengumuman disuarakan. Detik-detik menegangkan, aku yakin benar aku bakal meraih juara itu. Tuhan..  beri aku kesempatan.
            “Pengumuman Hasil perlombaan karya tulis tingkat remaja”, Grek, gemeretak kursi yang kududuki, Juara pertama diraih oleh ananda Isna Maulyda. Kepada nama yang telah saya sebutkan diharap untuk memasuki ruang acara untuk menerima piala”.
Aku bergegas ketempat acara, seperti dalam mimpi. Harapanku terwujud begitu adanya. Sesuai harapan.Sempurna!”
Esok aku sudah tidak sabar ingin segera pulang, menemui Abi dan Umi yang pastinya sangat merindukanku. Seharian penuh aku nikmati diperjalanan. Aku tidak merasa lelah. “Ah.. Mungkin karena rasa bahagiaku dengan piala yang kuterima hari ini. tepat jam tiga sore aku telah sampai dirumah. Rumah yang sudah beberapa bulan tidak kukunjungi. Sepi. Terlihat sunyi sekali rumah ini, aku melangkahkan kakiku pada pintu pertama.
“Abi... Umi... Isna pulang, Abi... tidak ada jawaban. Sunyi. Tiba-tiba Abi muncul dari balik dapur, Isna... akhirnya kau pulang juga nak, Abi sangat rindu padamu. Tiba-tiba Abi memelukku erat, aku merasakan pundakku mulai basah terkena air mata Abi. Aku seolah tidak mengerti, apa ini air mata kerinduan atau air mata kekecawaan? Atau ada hal lain yang memang aku tidak pernah tau hal itu. Abi menggandengku kemudian mendudukkanku dikursi ruang tamu. Abi? Kenapa Abi menangis Isna baik-baik saja disana, Oh ya, Umi mana? Tidak ada suaranya? Abi terdiam, dan raut wajahnya mulai terlihat asing dimataku.
Kenapa Abi?
Dimana Umi?”
maafkan Abi Isna, Abi tidak tega memberitahukan ini kepadamu nak, Umimu telah tiada. Abi kembali memelukku erat.. Aku tidak mengerti perkataan apa yang dilontarkan Abi. Kemudian Abi mengulangi ucapanya dan suara sesenggukan itu mulai membuatku khawatir. Umimu telah meninggal dua minggu yang lalu Isna. Maafkan Abi.. Maaf, Abi semakin memelukku erat. Aku tertegun  dan tidak sadar melepaskan pelukan Abi. dengan keadaan ini. Aku melepaskan pelukan Abi. Apa yang terjadi Abi ? apa yang terjadi ?
kenapa Abi baru mengabari Isna? Mengapa.. piala yang kupegang disisi kiriku terjatuh begitu saja. Seperti harapanku berakhir dititik ini.
Abi, katakan bahwa Abi sedang bercanda, katakan Abi.. Isna … isna mo hon..
 Abi menggelengkan kepala, dan semakin menangis keras. Isna , Abi merangkulku lagi.
“Isna, Umimu sakit dari dua bulan yang lalu. Umimu sangat bangga kepadamu, sekarang sudah menjadi dewasa yang cantik, dan pintar. Umimu juga berpesan agar Isna menjadi menjadi anak yang tidak hanya cerdas tetapi akan berbakti kepada orang tua.
Aku terdiam, menghentikan tangisku sejenak. Membayangkan betapa aku begitu kejam, betapa aku begitu durhaka. Meninggalkan Umi dan Abi tanpa member kabar apapu.
Maafkan aku Umi, maafkan Isna Abi.. Isna janji, akan berbakti kepada Abi sebagaimana yang Umi harapkan.
Kemudian aku memeluk Abi erat dengan mengucapkan janji itu.

Kamis, 27 November 2014



Selamat malam duniaku, selamat bertemu kembali di November ini. bagaimana ? apa kau masih akan mengujiku pelan seperti November lalu, atau bahkan sebaliknya. Kau akan menguatkanku dengan cobaan yang tidak hanya mengeluarkan sedikit air mata. Aku pikir begitu, jauh dari dasar logikaku, aku memiliki firasat lain yang tumbuh dari nurani. Ini tidak akan mudah bagiku. Melewati hari sendiri dengan berbagai ketakutan. Aku ragu. Ragu. Bahwa aku tidak bisa melakukannya. Takut, bahwa aku akan terjatuh sebelum sampai ke titik terakhir itu.
Setiap kali aku akan memejamkan mataku, aku merasa begitu nyaman. Karena aku seperti menghilang dari duniaku, dan melupakan berbagai peristiwa pahit. Seperti aku sedang berada di kota korea yang bersalju. Meski terlihat seperti drama. Tapi aku menyukai itu, aku benar-benar bisa menghirup udara dingin dengan lembutnya, menikmati itu.
Tapi aku sering menangis ketika terbangun. Aku takut bahwa esok ini akan lebih suram, semakin aku menikmati mimpi-mimpi itu, semakin pula aku takut membuka mata.
Apa kau tau ? duniaku saat ini begitu kejam, tidak ada yang bisa melihatku atau bahkan menyentuhku. Aku seperti berada diketerasingan. Entah, apakah aku terlalu dramatis mengungkapkannya. Tapi bagiku ini hidup. Inilah  hidupku.
Aku tidak tahu apa yang aku ingini, aku tidak mengerti tempat mana yang akan menjadi pemberhentianku. Aku menikmati air mata. Seperti aku menikmati hidupku. Tidakkah ini sakit bagiku ?  aku bisa menyelami kehidupan, perasaan, keadaan mereka. Tapi tidak dengan mereka yang acuh terhadapku. Mereka melihatku tertawa tapi tidak mengerti apa sebabnya, mengintaiku ketika menangis tapi tidak peduli kapan air mata itu reda. Bagiku ini sulit. Aku berharap aku bisa menemui seseorang didekatku untuk membantuku.

Minggu, 08 Juni 2014

PESAN

Pesan terakhir-

membuat tanganku bergerak kaku untuk menulis
membuat saraf-saraf otakku bekerja lebih tegang daripada biasa
seperti aku sedang berhadapan dengan pesan kematian. .
tepatnya aku tidak percaya-
berusaha tidak mempedulikan,

Tapi SIAL-.
Kata-katanya terlalu misterius,
Menghantui. . .
Aku putuskan untuk menghapus pesan itu,
Ah. . .
Aku tak tega-.-

bukankah aku masih kecil untuk menerima pesan itu?
BERANJAK-
Aku mematikan ponselku kali itu juga!

Tapi..
Ah,
Aku semakin pusing.

Sabtu, 19 April 2014

Malam-19

MALAM (19).
gerimis melunakkan jalanan keras malam itu
membuat kedua mataku rabun.
Iya!
Seperti roda-roda yang berputar mengitariku saling berlomba.
didepan, kemudian di belakang, lalu disebelahku.

Gerimis tidak lagi gerimis,
semakin keras..
Penat.
kedua mataku semakin Perih.

Aku tidak percaya akan segera sampai di ruang tulisku lagi malam itu.
Berusaha menikmati Angin malam

Kemudian beberapa detik.


BRAKK!!!!

ada peristiwa yang tak bisa ku ceritakan disini.

Dimana aku menemui satu pelajaran berharga.