Aku dilahirkan kembali dalam bayangan
senja disebuah dunia yang berperang dengan dirinya sendiri: aku yang berjalan
dengan angkuhnya memandang sebelah mata orang-orang yang berada didepanku,
seolah tak akan ada malam kelam dalam drama kehidupanku. Banyak yang
mencintaiku, berbicara tentang berlian-berlian indah yang menghiasi tubuhku.
Orang tuaku dengan cinta mengatakan, walaupun aku lahir dari kehidupan yang
cukup, jiwaku harus kupaksa untuk merendah.
Aku
masih tidak mengerti mengapa orang tuaku mengatakan itu padaku, bukankah
seharusnya orang tuaku bangga bila melihatku terlihat bercahaya dimata manusia
lain?, pertanyaanku terhenti sampai disini. Tidak peduli seberapa keras aku
menjelaskan pada orang tuaku, mereka akan terus mengulang-ulang kalimat itu.
Aku selalu menganggap diriku adalah manusia hebat yang menjelma menjadi
mahasiswa. Semua mahasiswa memandangku dengan tatapan kagum, terkadang sinis entah karena mereka merasa iri
atau mungkin karena mereka merasa jijik dengan aku yang selalu berdiri dengan
kesombongan yang kupunya.
Inilah
aku yang dilahirkan dari setetes air mani dan berevolusi menjadi sesosok
binatang yang berakal dan berhati. Aku bagaikan hidup dalam surga yang
menjanjikan segala nikmat yang amat menggiurkan bahkan bunga-bunga keagungan
seakan menjanjikan aroma penhormatan kepadaku. Satu persatu merundukkan tangkai
pengabdian kepadaku.
Sang
malam mulai merajai tubuhku dalam ketidakberdayaan. Mataku perlahan mulai
terpejam dan aku mulai berlari-lari menuju alam mimpi. Saat itulah kudapati
perjumpaan yang tak selamanya membawa arti, karena makna yang kuimpikan
hanyalah setitik keindahan yang menyemburkan lebih dari seratus duka. Aku
gelisah. Saat itu kulihat dunia ini hancur dan gunung-gunung meletus. Sedang
aku masih mengkhawatirkan diriku dan menunggu orang-orang melihatku. Padahal
mereka berlalu lalang menyelamatkan anak istrinya. Hingga akhirnya kudapati aku
terbaring lemah tanpa apa-apa diantara ribuan kaki yang berlalu lalang.
Aku
telah bermimpi dan tak kusangka air mataku pun meleleh serta hatiku bergejolak. Tidakkah hidup ini
lebih indah dari sebuah mimpi ? ketakutan menghantuiku hingga menumbuhkan
harapanku bahwa kenyataan akan datang mematahkan argumentasi mimpi. Aku terus
bertanya tentang mimpiku pada jiwaku, pada angin spoi-spoi, dan pada lautan
yang membentang luas . Mereka satupun tak ada yang mampu memberikan jawaban.
Hingga kudapati seorang sahabatmengahmpiriku dan memberikan sebuah jawaban :
Hidup kita seperti sebuah kedipan cahaya
keabadian, senoda debu terbumbung sebentar oleh angin yang mengarungi semesta
hampa tak terbatas. Kemudian sahabat itu meletakkan buku dipangkuanku, dan
beranjak membalikkan badannya. Aku semakin bergelut dengan jiwaku, seperti
meraba-raba dalam kegelapan yang bersikeras untuk memahami jawaban itu. Aku
benar-benar terperangkap dalam mimpi. Mimpi yang tidak bisa ku ingkari untuk
terus kupikirkan. Betapa aku terlihat seorang diri dan tidak ada satu jiwapun
yang mengenaliku dalam mimpi, menjadi ketakutan tersendiri ketika aku menjelma menjadi
manusia yang tidak memiliki apa-apa. Tidak ! mimpi bukan solusi atas hidupku.
Kenyataan ini lebih nyaman dan damai untuk kurenungkan. Begitu kiranya aku
mencoba menenangkan jiwaku. “Dunia Shopi” Aku mulai membalik halaman buku sambil
membaca dari alinea ke alinea dengan teratur hingga hari menjadi gelap. Lalu
kudapati bibirku menarikan suara dengan pelan ketika menemukan kalimat dilangit luas dan menakjubkan ini, siapakah
aku ? darimana asalku dan bagaimana caranya sampai aku bisa berada disini ?
adakah tujuan lain yang lebih luhur selain merasa takjub pada posisiku yang
gamang ini pada ketidakjelasan waktu ?
Laksana tembang-tembang lama yang sudah jauh
terlupakan. Sisa-sisa senyuman yang masih mengembang dibibirku pudar seketika.
Aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan misterius ini.
pertanyaan-pertanyaan ini semakin menambah kegelisahan mimpi-mimpiku semalam.
Suatu
pagi saat tersentuh hangat mentari, aku melintasi pergumulan mahasiswa yang
sedang bercanda didepan kelas. Saat itu pula aku melihat sahabatku termenung di
sebelahnya. Wanita yang saat ini mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan
umat didalam sebuah Ormas Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu sahabatku. Aku
segera menghampirinya dan bertanya, “mengapa kau memberiku sebuah buku yang
menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru untukku wahai sahabatku ? tidakkah kau
mengerti aku sedang dihantui mimpi-mimpi buruk tentang kedamaian hidupku.
Sahabatku menjawab, “ada isyarat, ada pertanda bahwa
kau harus mengakhiri kedamaian hidupmu yang selalu berada dalam kenyamanan
wahai sahabatku. Aku akan mengenalkanmu tentang kehidupan dimana orang-orang
melarat diperlakukan secara tidak adil, ditindas dalam pijakan orang-orang
berhati batu, bagaimana anak-anak diluar terlantar sesat dan terlupakan
dijalan-jalan padat kendaraan, tetapi sebelum itu aku telah memberikanmu satu
buku untuk kau baca, itu karena kau harus mengerti dulu siapa dirimu maka kamu
akan mengerti dunia yang kau tempati dan orang-orang yang berada
disekililingmu.
“Ah,
apa yang sedang engkau bicarakan sahabatku ? hentikanlah prasangka rabunmu itu.
aku sedang tidak ingin bercanda pagi ini.
“Hidup tidak selalu tentang apa yang engkau miliki dan tentang bagaimana
engkau selalu memperhatikan penampilanmu tetapi engkau perlu mengenali siapa dirimu dan
untuk apa sebenarnya engkau berada disini ? tidakkah selama ini engkau masih
dibutakan kenyamanan-kenyamanan dari harta yang engkau miliki sahabatku, hingga
engkau begitu terkejut mendapati mimpi semacam itu. Malam itu engkau telah
mendapat wahyu maka kau harus melanjutkan apa yang sedang engkau baca dan
temukan jawaban-jawaban atas masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang engkau
dapati dalam mimpimu.
Aku menghela nafas. Dari sekian banyak orang disekeliling
yang kuanggap keluarga, satu jiwa yang sampai sejauh ini aku tidak bisa
memahami karakternya. Aku telah percaya pada kebaikannya, budi pekertinya,
kecerdasanya dan kerendahan hatinya yang selalu memintaku untuk melihat wajahku
sendiri dalam cermin. Kerapkali kita duduk disatu meja menyantap makanan bersama
dibumbui cerita dan lelucon serta tidak jarang pula aku didudukkan pada
lingkaran mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiskusi.
Aku terdiam, berawal dari mimpi itu hatiku
bergejolak dan rasa keingintahuan terhadap pertanyaan-pertanyaan misterius ini
semakin menggebu. Kemudian ia mengajakku
bertemu dengan manusia-manusia luar biasa yang keyakinannya bersinar
terang dan mantap seperti bintang di konstelasi. Mereka tidak hanya sekedar
membicarakan ideologi tetapi lebih tepatnya menuntunku kedalam cagar alam
diriku untuk meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang membuatku terus merasa
angkuh. Dengan cara ini, hidup mengajariku. Aku belajar keyakinan dari yang
meragukan dan berterikasih kepada semua. Aku
mulai meninggalkan gaya hidupku dan terbiasa berkumpul dalam lingkaran
mahasiswa-mahasiswa luar biasa. Sejak itulah aku mulai mencari tau siapa diriku
? untuk apa aku berada disini ? dan pertanyaan-pertanyaan baru yang selalu
muncul dalam kehidupanku. Begitu drama ini mengantarkan dan mengenalkanku kedalam
sebuah ikatan merah dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, melihat orang-orang
disekitarku dan memahami bagaimana hidup mengajariku bersyukur terhadap sang
pencipta.
Terimakasih Sahabatku. Terimakasih mahasiswa-mahasiswa
merah luar biasa !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar