Sabtu, 04 April 2015

Filsafat "Mimpi"

Aku dilahirkan kembali dalam bayangan senja disebuah dunia yang berperang dengan dirinya sendiri: aku yang berjalan dengan angkuhnya memandang sebelah mata orang-orang yang berada didepanku, seolah tak akan ada malam kelam dalam drama kehidupanku. Banyak yang mencintaiku, berbicara tentang berlian-berlian indah yang menghiasi tubuhku. Orang tuaku dengan cinta mengatakan, walaupun aku lahir dari kehidupan yang cukup, jiwaku harus kupaksa untuk merendah.
          Aku masih tidak mengerti mengapa orang tuaku mengatakan itu padaku, bukankah seharusnya orang tuaku bangga bila melihatku terlihat bercahaya dimata manusia lain?, pertanyaanku terhenti sampai disini. Tidak peduli seberapa keras aku menjelaskan pada orang tuaku, mereka akan terus mengulang-ulang kalimat itu. Aku selalu menganggap diriku adalah manusia hebat yang menjelma menjadi mahasiswa. Semua mahasiswa memandangku dengan tatapan kagum,  terkadang sinis entah karena mereka merasa iri atau mungkin karena mereka merasa jijik dengan aku yang selalu berdiri dengan kesombongan yang kupunya.
          Inilah aku yang dilahirkan dari setetes air mani dan berevolusi menjadi sesosok binatang yang berakal dan berhati. Aku bagaikan hidup dalam surga yang menjanjikan segala nikmat yang amat menggiurkan bahkan bunga-bunga keagungan seakan menjanjikan aroma penhormatan kepadaku. Satu persatu merundukkan tangkai pengabdian kepadaku.
          Sang malam mulai merajai tubuhku dalam ketidakberdayaan. Mataku perlahan mulai terpejam dan aku mulai berlari-lari menuju alam mimpi. Saat itulah kudapati perjumpaan yang tak selamanya membawa arti, karena makna yang kuimpikan hanyalah setitik keindahan yang menyemburkan lebih dari seratus duka. Aku gelisah. Saat itu kulihat dunia ini hancur dan gunung-gunung meletus. Sedang aku masih mengkhawatirkan diriku dan menunggu orang-orang melihatku. Padahal mereka berlalu lalang menyelamatkan anak istrinya. Hingga akhirnya kudapati aku terbaring lemah tanpa apa-apa diantara ribuan kaki yang berlalu lalang.
          Aku telah bermimpi dan tak kusangka air mataku pun meleleh  serta hatiku bergejolak. Tidakkah hidup ini lebih indah dari sebuah mimpi ? ketakutan menghantuiku hingga menumbuhkan harapanku bahwa kenyataan akan datang mematahkan argumentasi mimpi. Aku terus bertanya tentang mimpiku pada jiwaku, pada angin spoi-spoi, dan pada lautan yang membentang luas . Mereka satupun tak ada yang mampu memberikan jawaban. Hingga kudapati seorang sahabatmengahmpiriku dan  memberikan sebuah jawaban :
          Hidup kita seperti sebuah kedipan cahaya keabadian, senoda debu terbumbung sebentar oleh angin yang mengarungi semesta hampa tak terbatas. Kemudian sahabat itu meletakkan buku dipangkuanku, dan beranjak membalikkan badannya. Aku semakin bergelut dengan jiwaku, seperti meraba-raba dalam kegelapan yang bersikeras untuk memahami jawaban itu. Aku benar-benar terperangkap dalam mimpi. Mimpi yang tidak bisa ku ingkari untuk terus kupikirkan. Betapa aku terlihat seorang diri dan tidak ada satu jiwapun yang mengenaliku dalam mimpi, menjadi ketakutan tersendiri ketika aku menjelma menjadi manusia yang tidak memiliki apa-apa. Tidak ! mimpi bukan solusi atas hidupku. Kenyataan ini lebih nyaman dan damai untuk kurenungkan. Begitu kiranya aku mencoba menenangkan jiwaku. “Dunia Shopi” Aku mulai membalik halaman buku sambil membaca dari alinea ke alinea dengan teratur hingga hari menjadi gelap. Lalu kudapati bibirku menarikan suara dengan pelan ketika menemukan kalimat dilangit luas dan menakjubkan ini, siapakah aku ? darimana asalku dan bagaimana caranya sampai aku bisa berada disini ? adakah tujuan lain yang lebih luhur selain merasa takjub pada posisiku yang gamang ini pada ketidakjelasan waktu ?
Laksana tembang-tembang lama yang sudah jauh terlupakan. Sisa-sisa senyuman yang masih mengembang dibibirku pudar seketika. Aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan misterius ini. pertanyaan-pertanyaan ini semakin menambah kegelisahan mimpi-mimpiku semalam.
          Suatu pagi saat tersentuh hangat mentari, aku melintasi pergumulan mahasiswa yang sedang bercanda didepan kelas. Saat itu pula aku melihat sahabatku termenung di sebelahnya. Wanita yang saat ini mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan umat didalam sebuah Ormas Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu sahabatku. Aku segera menghampirinya dan bertanya, “mengapa kau memberiku sebuah buku yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru untukku wahai sahabatku ? tidakkah kau mengerti aku sedang dihantui mimpi-mimpi buruk tentang kedamaian hidupku.
Sahabatku menjawab, “ada isyarat, ada pertanda bahwa kau harus mengakhiri kedamaian hidupmu yang selalu berada dalam kenyamanan wahai sahabatku. Aku akan mengenalkanmu tentang kehidupan dimana orang-orang melarat diperlakukan secara tidak adil, ditindas dalam pijakan orang-orang berhati batu, bagaimana anak-anak diluar terlantar sesat dan terlupakan dijalan-jalan padat kendaraan, tetapi sebelum itu aku telah memberikanmu satu buku untuk kau baca, itu karena kau harus mengerti dulu siapa dirimu maka kamu akan mengerti dunia yang kau tempati dan orang-orang yang berada disekililingmu.
          “Ah, apa yang sedang engkau bicarakan sahabatku ? hentikanlah prasangka rabunmu itu. aku sedang tidak ingin bercanda pagi ini.
“Hidup tidak selalu tentang apa  yang engkau miliki dan tentang bagaimana engkau selalu memperhatikan penampilanmu  tetapi engkau perlu mengenali siapa dirimu dan untuk apa sebenarnya engkau berada disini ? tidakkah selama ini engkau masih dibutakan kenyamanan-kenyamanan dari harta yang engkau miliki sahabatku, hingga engkau begitu terkejut mendapati mimpi semacam itu. Malam itu engkau telah mendapat wahyu maka kau harus melanjutkan apa yang sedang engkau baca dan temukan jawaban-jawaban atas masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang engkau dapati dalam mimpimu.
Aku menghela nafas. Dari sekian banyak orang disekeliling yang kuanggap keluarga, satu jiwa yang sampai sejauh ini aku tidak bisa memahami karakternya. Aku telah percaya pada kebaikannya, budi pekertinya, kecerdasanya dan kerendahan hatinya yang selalu memintaku untuk melihat wajahku sendiri dalam cermin. Kerapkali kita duduk disatu meja menyantap makanan bersama dibumbui cerita dan lelucon serta tidak jarang pula aku didudukkan pada lingkaran mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiskusi.     
Aku terdiam, berawal dari mimpi itu hatiku bergejolak dan rasa keingintahuan terhadap pertanyaan-pertanyaan misterius ini semakin menggebu. Kemudian ia mengajakku  bertemu dengan manusia-manusia luar biasa yang keyakinannya bersinar terang dan mantap seperti bintang di konstelasi. Mereka tidak hanya sekedar membicarakan ideologi tetapi lebih tepatnya menuntunku kedalam cagar alam diriku untuk meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang membuatku terus merasa angkuh. Dengan cara ini, hidup mengajariku. Aku belajar keyakinan dari yang meragukan dan berterikasih kepada semua.  Aku mulai meninggalkan gaya hidupku dan terbiasa berkumpul dalam lingkaran mahasiswa-mahasiswa luar biasa. Sejak itulah aku mulai mencari tau siapa diriku ? untuk apa aku berada disini ? dan pertanyaan-pertanyaan baru yang selalu muncul dalam kehidupanku. Begitu drama ini mengantarkan dan mengenalkanku kedalam sebuah ikatan merah dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, melihat orang-orang disekitarku dan memahami bagaimana hidup mengajariku bersyukur terhadap sang pencipta.
Terimakasih Sahabatku. Terimakasih mahasiswa-mahasiswa merah luar biasa !


Tidak ada komentar: