Malam
ini terasa dingin, tak seperti malam-malam yang lalu. Sepi, tapi menentramkan,
membuat suasana hatiku ikut terbawa keadaan. Aku berharap ada banyak bintang
dilangit, yang biasa terlihat terang dari teras lantai dua kamarku. Amat jelas,
tapi malam ini aku hanya melihat dua bintang yang seolah mengintaiku. Ah...
mungkin bintang yang lain sedang pergi ke pesta dansa malam ini, batinku
menenangkan.
Tlilit.
.tlililit..tlililit, tiba-tiba tanganku digetarkan dering sms, satu pesan
diterima. Aku segera membukannya “apa
kabar nak ? kapan kamu pulang Isna ? ibumu sangat merinduimu dirumah. Aku
langsung beranjak dari suasana nyaman, seperti kaset yang kemudian memutar
ulang keadaan, ingat Abi, ingat Umi dirumah. Umi pasti sangat kangen padaku,
yang biasa mengelus-elus rambutku diruang keluarga, menyanjungku didepan Abi,
“Lihat bi, anak kita sudah besar ya ? cantik pula”. Kemudian Abi tersenyum
ringan, banyak belajar Isna, biar jadi anak pintar, tidak hanya cantik saja.
Gumam Abi yang sampai sekarang menjadi motivasi nilai bercahayaku disini.
Aku
baru mengerti betapa susahnya hidup dalam perantauan, jauh dari Umi dan Abi,
jauh dari kisah manja orang tua. Sempurna, malam ini puisi ingatanku
benar-benar membuat air mataku mengalir begitu deras. Aku gemetar membalas
pesan Abi, tapi aku tidak ingin mmbuat Abi dan Umi khawatir, perlahan aku
menuliskannya.
“Isna baik-baik saja Abi,
Umi.
Isna juga sangat rindu pada Abi dan Umi, tapi Isna minta maaf, Isna belum
bisa pulang bulan ini. Kegiatan kini membuat rindu itu tersimpan rapat-rapat
diruang tersendiri. Abi, Umi, baik-baik saja bukan dirumah ? salam rindu dari
anakmu.Isna” . Aku tahu betul, bagaimana wajah kehawatiran Abi dan Umi.
Bahkan tau pasti mereka sangat menunggu kehadirannku, biasanya Abi tidak
sesering ini mengirim pesan padaku,tapi bulan ini lain, dalam waktu dua minggu
Abi sudah tiga kali menanyakan kepulanganku.
Semakin
hari jadwalku semakin padat, terlalu sibuk mengurusi kegiatan, hingga aku lupa
dengan segalanya. Lupa dengan teman-teman SMA, bukan lupa lebih tepatnya tapi
terlalu menyibukkan diri.
Pagi tadi Lia
teman SMA ku menelponku,
Isna
sekarang sudah jadi orang sibuk ya ?”sampai tak pernah meghubungi sahabatnya.
Aku
tertawa ringan, menjawabnya.
“ada sedikit
kegiatan Lia,” begitu jawabku lembut. Aku tidak ingin mengecewakan sahabat
baikku di SMA, ya! Walaupun dulu Lia ini anak super bawel dikelas, kalau sudah
ngomong, susah banget berhentinnya.sampai-sampai aku sering meninggakannya
pergi mengoceh sendirian. Hm.. yakin, mudah sekali mengingat kenangan-kenangan
itu. Aku seperti terbawa masa lalu.
Ah... sayangnya aku harus segera menghentikan
telponku pagi itu, aku serasa sudah menjadi presiden, yang padat jadwal
terbang. Aku juga jarang menghubungi Umi, kalau tidak Umi yang mengirim pesan
terlebih dahulu padaku.
Siang ini terik matahari begitu menyengat,
pelajaran yang baru saja ku ikuti juga sangat membosankan, bayangkan saja.. aku
disuruh duduk, dan dosen mulai mendongeng seenaknya. Seperti kembali pada masa
di Sekolah Dasar saja, tapi lumayan separoh SKSnya bisa kubuat untuk melepas
lelah dengan sejenak memejamkan mata. Aku tidak peduli apa dosen tersebut akan
melihatku atau tidak. Apa peduli dosen seperti ini ?, ia hanya duduk, kemudian
mendongeng, lalu keluar kembali. Hebat, uang bisa mengalir terus menerus. Aku
seperti dininabobokkan dikelas.
Aku berteduh
dibawah pohon ringin yang kira-kira cukup untuk ditempati 4-5 orang, kuambil
sapu tangan hijau dari tas kecilku, kenang-kenangan dari Umi dulu. Tiba-tiba
bapak Mudji dari kejauhan terlihat melambaikan tangan kemudian mendekatiku.
“Ada apa ini?, kupikir nilai ku cukup baik pada mata kuliahnya minggu lalu”.
Ah... pikiran negatifku berkeliaran ,
semakin terlihat jelas senyum lebar Pak Mudji, “Isna, bapak sudah membaca
cerpen-cerpenmu, kau terlihat menjiwai sekali dalam kepenulisan. Begini,
rencana bapak mau meminta Isna untuk bersedia mengikuti lomba karya tulis di
Bogor, tapi sebelum itu, Isna harus mengikuti pelatihan dulu selama 1 bulan di
Bogor, untuk biaya sudah bapak tanggung semuanya, nanti biar bapak meminta
keponakan bapak agar menemanimu supaya tidak kesepian. Bagaimana
Isna? Bukankah lumayan, lagian sebentar lagi sudah libur semeter, ya
sedikit-sedikit bisa mengisi waktu senggangmu.
Aku mengangguk,
menghela nafas panjang. Bukankah hari libur itu akan kugunakan untuk menyapa
Umi dan Abi dirumah. Tapi bagaimana dengan tawaran ini ? aku tidak cukup tega
menolak permintaan Pak Mudji.
Aku menunduk...
Kemudian Pak
Mudji mulai berbicara lagi, “bagaimana Isna? Bisakah kau meluangkan liburanmu
kali ini ?”
“Bapak yakin kau
anak yang akan sukses Isna”, Aku bergetar mengangguk. Mencoba memainkan logika
bahwa aku telah memenangkan lomba karya tulis itu, betapa tidak sedikit hadiah
yang akan ku terima. Kemudian Umi menjadi orang pertama yang akan kutunjuki
piala tinggi itu...
Oh, sungguh itu
benar-benar menakjubkan Isna.
“Baguslah nak”,
suara bangga Pak Mudji benar-benar menyentak lamunanku...
Kemudian, Pak
Mudji berlalu begitu saja,.
Mataku mulai
berkaca-kaca, lima bulan ini aku belum pulang menyapa Umi dan Abi sama
sekali, alasan apalagi yang akan aku katakan pada mereka, aku menyeka air mataku.
Tiba-tiba Abi
menelponku, suaraku masih serak menjawab telpon Abi,
“Kau baik-baik
saja Nak?, kenapa kau menangis Isna?, apa kau sedang sakit?”
“Tidak Abi, Isna
baik-baik saja disini”, aku menjawab lirih
“apa Abi perlu
memesankan travel untukmu pulang minggu depan Nak?, Abi sudah tidak sabar ingin
bertemu Isna, Umi juga sangat rindu sekali pada Isna”, Aku ,menghela nafas
panjang... “Isna ingin berbicara pada Umi bisa, Abi?”
Umi sedang sibuk
didapur Nak”, kamu segera pulang saja, nanti langsung bisa memeluk Umimu”.
“Aku menyeringai
datar... Heran”,
Umi tak pernah
ada waktu untuk sekedar ngobrol sama aku, Abi selalu bilang Umi selalu sibuk
didapur dan dapur, batinku bertanya-tanya...
“Abi, Isna mau
bicara jujur pada Abi, Isna diminta untuk mengikuti pelatihan menulis untuk
dikirim lomba mewakili universitas selama satu bulan, dan hadiahnya lumayan
Abi, Isna berharap Abi mengizinkan Isna untuk satu bulan kemudian pulang
kerumah”, “aku merayu kalem”.
Aku tahu Abi
pasti kecewa padaku. Sunyi. Tak ada kata-kata, beberapa menit kemudian Abi
memulai berbicara, “Yasudah Isna, berangkatlah!, Abi dan Umi mendo’akanmu dari
rumah”, “Suara Abi lirih...”
Menyeringai tersenyum,
tapi sedikit berat hati. Ah... betapa aku benar-benar rindu pada Abi dan Umi.
Ingin sekali memeluk mereka begitu eratnya kemudian melepaskan lelah ini.
Aku berangkat
pagi-pagi benar hari ini, takut Pak Mudji sudah menunggu lama disekolah, aku
sebenarnya mengerti, Pak Mudji tidak akan marah padaku, sifat lembutnya yang
membuatku memberikan penilaian beda dari dosen-dosen yang lain. Satu jam
kemudian aku telah sampai di Bogor.
“Ternyata
suasana disini tidak jauh beda dengan di Solo, Huh... padat kendaraaan”.
Aku menikmati
keadaaanku disini, tapi bayang-bayang Abi dan Umi tidak bisa lepas dari
fikiranku, tadi malam Abi mengirim sms padaku, aku dimintanya pulang tanpa
memberi alasan yang jelas. “teleponku bergetar lagi”, “Isna, anakku sayang, Abi
mohon pulanglah nak, ada sesuatu yang tidak bisa Abi jelaskan melalui ponsel”.
Tiba-tiba hatiku
trenyuh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan Abi padaku, “Tapi apa? Bukankah
Abi tahu ini masih setengah bulan Isna di Bogor dan perlombaanpun masih lama, bagaimana
dengan harapanku membawa piala itu untuk Umi, Huh...Abi ada-ada saja”. Aku
mendengus.
Malam ini aku
seperti dibolak-balikkan oleh keadaan, pesan yang disampaikan Abi benar-benar
seraa membayangi pikiranku.seperti memintaku hadir pada suasana senyap dirumah.
“aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan”. Mataku telah berair. Entah,
apa yang membuat hatiku seperti menyayat beban. Benar! Ada sesuatu yang Abi
sembunyikan dariku, “Tapi apa?”, aku sengaja tak membalas sms Abi tadi siang,
sampai larut malam ini Abi juga tak kunjung mengirim pesan lagi padaku.”Oh...
entahlah, bila memang penting harusnya Abi menelponku”.
Hari ini tepat
dihari perlombaan cerpen, aku tak sabar rasanya ingin mendengar pengumuman
perlombaan, “Harus bisa, aku yakin bisa mengembalikan senyum Umi dengan piala
yang akan kubawa”. Oh... Rindu sekali pada Umi...
Tiga hari
kemudian, aku telah berada dikursi paling depan menunggu pengumuman disuarakan.
Detik-detik menegangkan, aku yakin benar aku bakal meraih juara itu.
Tuhan.. beri aku kesempatan.
“Pengumuman Hasil perlombaan karya
tulis tingkat remaja”, Grek, gemeretak kursi yang kududuki, Juara pertama
diraih oleh ananda Isna Maulyda. Kepada nama yang telah saya sebutkan diharap
untuk memasuki ruang acara untuk menerima piala”.
Aku
bergegas ketempat acara, seperti dalam mimpi. Harapanku terwujud begitu adanya.
Sesuai harapan.Sempurna!”
Esok
aku sudah tidak sabar ingin segera pulang, menemui Abi dan Umi yang pastinya
sangat merindukanku. Seharian penuh aku nikmati diperjalanan. Aku tidak merasa
lelah. “Ah.. Mungkin karena rasa bahagiaku dengan piala yang kuterima hari ini.
tepat jam tiga sore aku telah sampai dirumah. Rumah yang sudah beberapa bulan
tidak kukunjungi. Sepi. Terlihat sunyi sekali rumah ini, aku melangkahkan kakiku
pada pintu pertama.
“Abi...
Umi... Isna pulang, Abi... tidak ada jawaban. Sunyi. Tiba-tiba Abi muncul dari
balik dapur, Isna... akhirnya kau pulang juga nak, Abi sangat rindu padamu.
Tiba-tiba Abi memelukku erat, aku merasakan pundakku mulai basah terkena air
mata Abi. Aku seolah tidak mengerti, apa ini air mata kerinduan atau air mata
kekecawaan? Atau ada hal lain yang memang aku tidak pernah tau hal itu. Abi menggandengku
kemudian mendudukkanku dikursi ruang tamu. Abi? Kenapa Abi menangis Isna
baik-baik saja disana, Oh ya, Umi mana? Tidak ada suaranya? Abi terdiam, dan
raut wajahnya mulai terlihat asing dimataku.
Kenapa
Abi?
Dimana Umi?”
maafkan Abi
Isna, Abi tidak tega memberitahukan ini kepadamu nak, Umimu telah tiada. Abi
kembali memelukku erat.. Aku
tidak mengerti perkataan apa yang dilontarkan Abi. Kemudian Abi mengulangi
ucapanya dan suara sesenggukan itu mulai membuatku khawatir. Umimu telah
meninggal dua minggu yang lalu Isna. Maafkan Abi.. Maaf, Abi semakin memelukku
erat. Aku tertegun dan tidak sadar melepaskan
pelukan Abi. dengan keadaan ini. Aku melepaskan pelukan Abi. Apa yang terjadi
Abi ? apa yang terjadi ?
kenapa Abi baru mengabari Isna? Mengapa.. piala yang
kupegang disisi kiriku terjatuh begitu saja. Seperti harapanku berakhir dititik
ini.
Abi, katakan bahwa Abi sedang bercanda, katakan Abi..
Isna … isna mo hon..
Abi
menggelengkan kepala, dan semakin menangis keras. Isna , Abi merangkulku lagi.
“Isna, Umimu sakit dari dua bulan yang lalu. Umimu
sangat bangga kepadamu, sekarang sudah menjadi dewasa yang cantik, dan pintar.
Umimu juga berpesan agar Isna menjadi menjadi anak yang tidak hanya cerdas
tetapi akan berbakti kepada orang tua.
Aku terdiam, menghentikan tangisku sejenak.
Membayangkan betapa aku begitu kejam, betapa aku begitu durhaka. Meninggalkan
Umi dan Abi tanpa member kabar apapu.
Maafkan aku Umi, maafkan Isna Abi.. Isna janji, akan
berbakti kepada Abi sebagaimana yang Umi harapkan.
Kemudian aku memeluk Abi erat dengan mengucapkan janji
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar