Judul Novel : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci
Angin
Penulis
: Tere Liye
Penerbit : PT.
Gramedia Pustaka
Tahun Terbit : Juni 2010
Tebal
: 257 halaman
Kategori
: Fiksi, Novel
Harga
: Rp. 48.000,00
“ Dia bagai malaikat keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan ibu dari
kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh,
sekolah dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi
keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian dan teladan tanpa mengharap
budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar
perasaan ini.”
Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Tania yang menyukai seorang
lelaki tak sebaya dengannya, selisih umur antara keduanya adalah 14 tahun,
sosok lelaki tersebut bagai malaikat yang menjanjikan masa depannya. Namun pada akhirnya
Tania hanya mampu menimbun mimpi, sehingga iya tidak tahu lagi mana simpul yang
nyata dan mana simpul yang dusta.
Keluarga Tania adalah
keluarga miskin yang selama tiga tahun hidup di sebuah lahan kosong pinggiran
kota Depok, beralaskan dan beratapkan kardus, dengan sebuah pohon linden pada
halamannya. Berawal dari kisah masa kecilnya yang sulit, dia harus menjalani
hidup sebagai pengamen ibukota. Bersama adiknya, Dede, menyanyikan lagu sambil
memainkan kecrengan dari satu bis kota ke bis kota lain. Ketiadaan ayah
sedari mereka balita yang membuat hidup mereka sulit. Sampai suatu ketika nasib
mereka berubah, saat Tuhan menyampaikan takdirnya lewat seorang penumpang bis
kota yang selanjutnya dijuluki malaikat oleh dua kakak beradik ini. Danar,
lelaki berusia 20 tahunan yang mereka temui di bis kota. Danar adalah nasib
baik dan dia juga akan menjadi tokoh dalam kisah cinta Tania.
Danar
yang sedari kecil tidak memiliki keluarga merasa sangat senang bertemu dengan
keluarga Tania. Apalagi ibu, dia mengganggap ibu sebagai ibunya sendiri.
Mencium tangannya, memberikan modal untuk membuat usaha kue dan mengajak Tania
dan Dede kembali ke bangku sekolah. Dia pun menyatakan kesanggupannya untuk
membiayai kehidupan keluarga ini. Kebaikannya terus dia berikan hingga kedua
anak itu beranjak dewasa.
Lalu datanglah masa dimana Tania
mulai menyadari makna dari rasa kagumnya, “Cinta” begitu iya menamakannya. Rasa
kagum yang dimaknai cinta tersebut membawa Tania kedalam rasa cemburu yang tak
terbendung saat Tania melihat Om Danar bersama dengan pacarnya, Iya! Tante
Ratna Tania menamakannya. Kemesraan yang disaksikan Tania saat itu, benar-benar
membakar emosinnya, Seketika hati kecil Tania tak terima saat Om
Danar menggandeng Tante Ratna. Bukankah biasanya pundaknya dipegang?
Jelas-jelas posisi Tania diambil oleh Tante Ratna. Sejak saat itulah dia mulai
merasa cemburu. (hal 34).
Kehidupan
Tania saat ini memang sudah mulai membaik, Ibu yang dulu berprofesi sebagai
seorang pencuci baju, sekarang sudah memilki usaha kue yang lumayan laris, Dede
juga sudah sekolah, begitu juga Tania, Ia tumbuh menjadi gadis yang pandai, dan
rumah yang ditempati keluarga Tania saat ini bukan lagi rumah kardus, tetapi
sudah bisa membeli sebuah kontrakan yang layak. Akan tetapi apalah kuasa
manusia, takdir berkata lain, Tere Liye kembali menggambarkan kesedihan Tania
setelah kehidupannya mulai membaik dengan kepergian Ibu Tania untuk selamanya.
Disinilah sosok Om Danar mengutarakan kata-kata filosofis itu “ Daun yang JatuhTtak
Pernah Membenci Angin”, Selain itu karena dikisahkan Tania adalah anak yang
pandai Tere Liye memisahkan Tania dengan Om Danar sebelum mereka saling
mengetahui perasaan masing-masing dengan mengirimkan Tania sebagai penerima
Beasiswa di Singapura. “Awalnya Tania tidak mau pergi ke Singapura namun karena
hal tersebut merupakan permintaan Oom Danar, akhirnya Tania bersedia untuk
berangkat ke Singapura karena dia sudah bersumpah untuk menuruti kata-kata Oom
Danar”. ( hal 70).
Di
Singapura Tania mulai bisa sedikit demi sedikit melupakan kesedihan kenangan
bersama ibunnya, ia menjalani profesinya sebagai seorang pelajar, tepat di
ulang tahunnya yang ke-17 tahun, Om Danar memberi Tania sebuah liontin yang
berinisial “T”, Tania begitu senang karena mendapat liontin istimewa dari Om
Danar tetapi setelah mengetahui bahwa adik juga ibunya diberi liontin, Tania
merasa tidak istimewa lagi. Kesedihan Tania bertambah menyayat ketika mendengar
kabar bahwa Om Danar dan Tante Ratna akan segera menikah.
Tak
kuasa menahan kesedihannya, tiba disaat pernikahan Om Danar dan Tante Ratna,
Tania sengaja tidak mau datang ke resepsinnya. Tania berusaha mengikhlaskan
meski terus bertanya-tanya kebenaran dari kenyataan yang ia terima. Setelah sekian
lama murung mendiamkan diri dengan kabar pernikahan tersebut Tania memutuskan
untuk pulang ke Indonesia atas bujukan
Tante Ratna yang belakangan ini sering curhat tentang carut-marutnya rumah
tangga mereka. Pada saat Tania sudah sampai di Indonesia perasaan keduanya
mulai terungkap dengan diketahuinya keistimewaan kalung Tania, yaitu ada
potongan gambar daun pohon linden yang juga terdapat pada kalung yang dimiliki
Oom Danar, selain itu Dede adik Tania yang sangat cerdik memberitahukan bahwa
ia tidak sengaja membaca file tulisan Om Danar yang diberi judul Cinta dari Pohon Linden, yang dibuat
enam bulan lalu, baru setengah jadi tetapi menjelaskan semuanya. Novel itu tak akan pernah selesai, Tak akan
pernah. Dan Gadis kecil yang diceritakan Om Danar dalam file tersebut
adalah Tania, bahkan penyebab dari permasalahan dalam keluarga Om Danarpun
adalah perasaannya terhadap Tania, hanya saja kenapa Om Danar enggan mengakui
perasaannya dan memilih menjawab pernyataan Tania dengan menikahi Tante Ratna. Kali
itu Tania benar-benar di buat bingung oleh kenyataan. Namun, memang cinta tak
harus di miliki oleh keduannya.
“Daun
yang jatuh tak pernak membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.
Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”
"Bahwa hidup harus menerima,
penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa
hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.Tak peduli lewat apa penerimaan,
pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih
dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin
merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
Di
dalam novel ini Tere Liye menggunakan alur maju mundur, sehingga tidak semua
orang mampu memahami maknanya secara langsung, selain itu pembaca harus
benar-benar memahami filosofis yang diguanakan Tere Liye, karena memang terlalu
rumit untuk di maknai, mungkin pembaca masih ada yang bertanya-tanya tentang
makna “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Kelebihan dari novel ini
konflik yang di alami tokoh utama sangat menarik, Tere Liye membuat emosi
pembaca ikut naik turun seperti keadaan yang dialami tokoh utama, penggambaran
tokohnya juga sangat jelas, sehingga pembaca dapat berimaginasi dengan mudah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar