Minggu, 16 Maret 2014

Sinopsis Novel (Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)




Judul Novel     : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka
Tahun Terbit    : Juni 2010
Tebal               : 257 halaman
Kategori           : Fiksi, Novel
Harga               : Rp. 48.000,00

“ Dia bagai malaikat keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian dan teladan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.”
            Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Tania yang menyukai seorang lelaki tak sebaya dengannya, selisih umur antara keduanya adalah 14 tahun, sosok lelaki tersebut bagai malaikat yang  menjanjikan masa depannya. Namun pada akhirnya Tania hanya mampu menimbun mimpi, sehingga iya tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
            Keluarga Tania adalah keluarga miskin yang selama tiga tahun hidup di sebuah lahan kosong pinggiran kota Depok, beralaskan dan beratapkan kardus, dengan sebuah pohon linden pada halamannya. Berawal dari kisah masa kecilnya yang sulit, dia harus menjalani hidup sebagai pengamen ibukota. Bersama adiknya, Dede, menyanyikan lagu sambil memainkan kecrengan dari satu bis kota ke bis kota lain. Ketiadaan ayah sedari mereka balita yang membuat hidup mereka sulit. Sampai suatu ketika nasib mereka berubah, saat Tuhan menyampaikan takdirnya lewat seorang penumpang bis kota yang selanjutnya dijuluki malaikat oleh dua kakak beradik ini. Danar, lelaki berusia 20 tahunan yang mereka temui di bis kota. Danar adalah nasib baik dan dia juga akan menjadi tokoh dalam kisah cinta Tania.
                Danar yang sedari kecil tidak memiliki keluarga merasa sangat senang bertemu dengan keluarga Tania. Apalagi ibu, dia mengganggap ibu sebagai ibunya sendiri. Mencium tangannya, memberikan modal untuk membuat usaha kue dan mengajak Tania dan Dede kembali ke bangku sekolah. Dia pun menyatakan kesanggupannya untuk membiayai kehidupan keluarga ini. Kebaikannya terus dia berikan hingga kedua anak itu beranjak dewasa.
            Lalu datanglah masa dimana Tania mulai menyadari makna dari rasa kagumnya, “Cinta” begitu iya menamakannya. Rasa kagum yang dimaknai cinta tersebut membawa Tania kedalam rasa cemburu yang tak terbendung saat Tania melihat Om Danar bersama dengan pacarnya, Iya! Tante Ratna Tania menamakannya. Kemesraan yang disaksikan Tania saat itu, benar-benar membakar emosinnya, Seketika hati kecil Tania tak terima saat Om Danar menggandeng Tante Ratna. Bukankah biasanya pundaknya dipegang? Jelas-jelas posisi Tania diambil oleh Tante Ratna. Sejak saat itulah dia mulai merasa cemburu. (hal 34).
            Kehidupan Tania saat ini memang sudah mulai membaik, Ibu yang dulu berprofesi sebagai seorang pencuci baju, sekarang sudah memilki usaha kue yang lumayan laris, Dede juga sudah sekolah, begitu juga Tania, Ia tumbuh menjadi gadis yang pandai, dan rumah yang ditempati keluarga Tania saat ini bukan lagi rumah kardus, tetapi sudah bisa membeli sebuah kontrakan yang layak. Akan tetapi apalah kuasa manusia, takdir berkata lain, Tere Liye kembali menggambarkan kesedihan Tania setelah kehidupannya mulai membaik dengan kepergian Ibu Tania untuk selamanya. Disinilah sosok Om Danar mengutarakan kata-kata filosofis itu “ Daun yang JatuhTtak Pernah Membenci Angin”, Selain itu karena dikisahkan Tania adalah anak yang pandai Tere Liye memisahkan Tania dengan Om Danar sebelum mereka saling mengetahui perasaan masing-masing dengan mengirimkan Tania sebagai penerima Beasiswa di Singapura. “Awalnya Tania tidak mau pergi ke Singapura namun karena hal tersebut merupakan permintaan Oom Danar, akhirnya Tania bersedia untuk berangkat ke Singapura karena dia sudah bersumpah untuk menuruti kata-kata Oom Danar”. ( hal 70).
            Di Singapura Tania mulai bisa sedikit demi sedikit melupakan kesedihan kenangan bersama ibunnya, ia menjalani profesinya sebagai seorang pelajar, tepat di ulang tahunnya yang ke-17 tahun, Om Danar memberi Tania sebuah liontin yang berinisial “T”, Tania begitu senang karena mendapat liontin istimewa dari Om Danar tetapi setelah mengetahui bahwa adik juga ibunya diberi liontin, Tania merasa tidak istimewa lagi. Kesedihan Tania bertambah menyayat ketika mendengar kabar bahwa Om Danar dan Tante Ratna akan segera menikah.
            Tak kuasa menahan kesedihannya, tiba disaat pernikahan Om Danar dan Tante Ratna, Tania sengaja tidak mau datang ke resepsinnya. Tania berusaha mengikhlaskan meski terus bertanya-tanya kebenaran dari kenyataan yang ia terima. Setelah sekian lama murung mendiamkan diri dengan kabar pernikahan tersebut Tania memutuskan untuk pulang ke Indonesia  atas bujukan Tante Ratna yang belakangan ini sering curhat tentang carut-marutnya rumah tangga mereka. Pada saat Tania sudah sampai di Indonesia perasaan keduanya mulai terungkap dengan diketahuinya keistimewaan kalung Tania, yaitu ada potongan gambar daun pohon linden yang juga terdapat pada kalung yang dimiliki Oom Danar, selain itu Dede adik Tania yang sangat cerdik memberitahukan bahwa ia tidak sengaja membaca file tulisan Om Danar yang diberi judul Cinta dari Pohon Linden, yang dibuat enam bulan lalu, baru setengah jadi tetapi menjelaskan semuanya. Novel itu tak akan pernah selesai, Tak akan pernah. Dan Gadis kecil yang diceritakan Om Danar dalam file tersebut adalah Tania, bahkan penyebab dari permasalahan dalam keluarga Om Danarpun adalah perasaannya terhadap Tania, hanya saja kenapa Om Danar enggan mengakui perasaannya dan memilih menjawab pernyataan Tania dengan menikahi Tante Ratna. Kali itu Tania benar-benar di buat bingung oleh kenyataan. Namun, memang cinta tak harus di miliki oleh keduannya.
            “Daun yang jatuh tak pernak membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.” 
"Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
            Di dalam novel ini Tere Liye menggunakan alur maju mundur, sehingga tidak semua orang mampu memahami maknanya secara langsung, selain itu pembaca harus benar-benar memahami filosofis yang diguanakan Tere Liye, karena memang terlalu rumit untuk di maknai, mungkin pembaca masih ada yang bertanya-tanya tentang makna “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Kelebihan dari novel ini konflik yang di alami tokoh utama sangat menarik, Tere Liye membuat emosi pembaca ikut naik turun seperti keadaan yang dialami tokoh utama, penggambaran tokohnya juga sangat jelas, sehingga pembaca dapat berimaginasi dengan mudah.
           

Tidak ada komentar: